ontime

Penyebab pekerjaan tidak On-time

Bismillah…

Simak cerita ini sampai selesai:

Setelah selesai bekerja, Andi langsung bergegas pulang ke rumah kos tempat ia tinggal. Sesampainya dikamar kos, ia melihat teman satu kamarnya, Budi, belum pulang.

“Ah, mungkin lagi ngopi” pikirnya, karena Budi memang doyan sekali ngopi saat pulang kerja.

Andi langsung mandi, bersiap-siap, lalu langsung ke tempat tidur karena sudah ingin istirahat. Tidak butuh waktu lama untuk Andi langsung tertidur pulas.

Namun, karena terlalu kelelahan, Andi lupa bahwa ia mengunci kamar kosnya dari dalam menggunakan grendel yang ada di pintu, ini membuat pintu kamarnya tidak bisa dibuka oleh budi dari luar walaupun Budi memiliki kunci pintu.

Setengah jam kemudian, Budi tiba di depan pintu kamar kos. Dan benar, saja saat ia berusaha membuka pintu kamarnya menggunakan kunci yang biasa ia gunakan, pintu kamar tidak terbuka.

Budi tahu Andi ada didalam, namun ia tidak tahu bahwa Andi saat ini sudah dalam kondisi tertidur pulas.

Budi lalu menggedor pintu dan memanggil Andi, namun tidak ada jawaban. Tidak lama, Budi lalu menelepon ke nomor HP Andi.

Andi yang terbiasa meletakkan HP nya didekat tempat tidur, langsung terbangun mendengar suara HP nya yang memang memiliki volume yang keras dan mengganggu. Ia sengaja melakukan ini karena tidak ingin melewatkan telepon dari client-nya.

“Ha…l..o…”, kata Andi setengah sadar.

“Andi, grendel pintu lupa dibuka nih, aku jadi tidak bisa masuk”, kata Budi.

Dengan berat hati, Andi lalu bangun dari tempat tidurnya, berjalan pintu untuk membuka pintu kamar kosnya.

“Duh, ternyata kamu udah tidur ya, maaf ya, silahkan kembali tidur lagi”, Budi lalu berkata sambil merasa tidak enak hati, karena tidak tahu kalau Andi sudah tidur.

Andi lalu kembali merebahkan diri di tempat tidur, untuk tidur lagi. Namun karena ia terbangun mendadak saat mengangkat telepon tadi, ia ternyata tidak bisa langsung tidur lagi. Kepalanya terasa agak pusing, pola tidurnya sudah terganggu.

Setelah berusaha menenangkan diri cukup lama, mencari posisi yang enak di tempat tidur, sekitar 40 menit kemudian, ia kembali tertidur lagi…

Saat kita sudah masuk kedalam sebuah suatu pekerjaan yang mendalam, maka kondisi pikiran atau “state” pikiran kita itu bisa diibaratkan hampir sama seperti kita tertidur.

Beberapa ahli mengatakan bahwa saat seseorang sedang asik sekali mengerjakan sesuatu (deep work), maka pikirannya mulai masuk ke tahap “Alpha” dimana pikiran bawah sadarnya mulai banyak terlibat.

Dalam dunia hipnotherapi kondisi seseorang yang sangat fokus ini sering disebut dengan “trance“. Dan kondisi ini sering dialami oleh seorang Freelancer karena bekerja dari rumah.

Mihaly Csikszentmihalyi, seorag psikolog menyebut kondisi pikiran atau “state” ini dengan: “Flow”.

Dan saat seseorang berada dalam kondisi “trance” ini, ia bisa sangat menikmati pekerjaannya, ia bisa menjadi seseorang yang sangat bahagia, walaupun mungkin pekerjaan yang ia lakukan sangat menantang, atau mungkin ia sedang dikejar deadline atau target yang besar. Semua menjadi tidak terasa lagi.

Waktu menjadi terlihat melambat, suara-suara yang terjadi di sekitar orang tersebut terasa memudar dan samar-samar. Tangannya terasa ringan, jika ia mengetik, apa yang ia ketik tidak mau berhenti, mengalir. Ini yang terjadi sudah sangat fokus dengan apa yang ia lakukan.

Baca juga : Pentingnya afirmasi untuk masa depan kita. Untuk anda yang masih ragu dengan masa depan, coba trik ini.

Anda mungkin pernah merasakannya.

Masalah terjadi saat kondisi ini diinterupsi. Sama seperti saat kita tidur, dari cerita diatas, Andi TIDAK bisa lagi langsung tertidur, atau melanjutkan tidurnya. Ia harus “mengulang” dari awal lagi proses tidurnya.

Rebahan lagi, cari posisi lagi, menyamankan dirinya lagi.

Inilah yang terjadi jika seseorang dalam kondisi “trance” dalam bekerja ini diganggu atau diinterupsi, maka untuk kembali ke kondisi “trance” lagi, akan membutuhkan waktu, atau, mungkin juga bisa kondisi ini TIDAK datang lagi.

Seseorang yang sudah terinterupsi alur kerjanya harus “mengulang” dari awal lagi. Mencari lagi tadi ia kerja sampai mana, berusaha mengingat ide-ide yang tadinya mulai mengalir, dll.

Sama halnya dengan ekspedisi pengiriman barang. Jika dijalan banyak barriernya. Maka kemungkinan besar barangnya juga telat datangnya.

Dan dalam beberapa kasus, pekerjaan ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, karena “Flow” nya terputus. Hal inilah yang terkadang membuat seseorang merasa seperti marah, bosan, frustasi dengan pekerjaan, dll.

Karenanya menurut saya, interupsi adalah pembunuh produktivitas no. 1. Dan seringnya sumber interupsi paling sering datang dari pemilik bisnis itu sendiri.

Jika seseorang ingin timnya bekerja dengan produktif, maka menurut saya, syarat pertama adalah sebisa mungkin meminimalisir interupsi ini.

Setelah seorang pemilik bisnis atau manager memberikan instruksi yang jelas ke timnya, langkah selanjutnya yang ia lakukan sesegera mungkin “menyingkir” dari pekerjaan timnya itu.

Disinilah menurut saya kerja remote atau kerja jarak jauh menjadi lebih unggul dibanding dengan bekerja dalam suasana kantor.

Tanpa berkumpulnya seseorang di lokasi yang sama, maka interupsi itu bisa menjadi sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali. Tidak bertemu = tidak ada gosip atau percakapan tidak perlu, dan artinya, sebuah tim bisa menjadi sangat produktif.

Jadi, bagaimana membuat sistem komunikasi minim interupsi?

Just Cleaning

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *